Rindu

dhani
2 min readJun 13, 2021
Two Women on the Shore (1898) by Edvard Munch. Original from The Art Institute of Chicago. Digitally enhanced by rawpixel.

Kukira aku sudah merelakanmu. Ternyata tidak. Aku masih merindukanmu. Terasa sakit. Aku tak bisa bekerja, kepalaku penuh dengan harapan. Kita akan kembali bersama, menemukan pekerjaan yang baik, dan kita bahagia. Tapi ada hal yang tak bisa kita selamatkan. Ada hal yang bisa kita pertahankan, sementara sisanya akan hilang.

Kamu tak bisa mengubah keadaan. Rasa rindu di dada kirimu, perasaanmu yang kamu kira selesai, akan pelan-pelan mengambil alih akal sehatmu. Rasa sakit di dada kirimu terasa sesak. Seperti ribuan bantal menekan dadamu, kamu lupa caranya bernafas. Kamu tak tahu bagaimana mengatasi perih itu. Kamu hanya bisa merelakan, bisa merasakan, lantas berharap segala yang kamu rasakan sekarang hilang.

Aku merindukan kebersamaan kita. Aku ingin memeluk tubuhmu. Tidur yang lama di ketiakmu. Mencium keningmu. Lalu kita akan makan bersama. Sambal yang pedas. Dadar jagung. Telur ceplok. Juga nasi panas. Aku ingin kita ngobrol lagi. Barangkali makan es krim, kopi dingin, kerang rebus. Juga langit malam di pinggir jalan. Aku rindu kamu.

Tapi aku sadar itu tak bisa. Rasa sakit, perih, dan tidak berdaya ini membuatku marah. Cemas. Juga merasa takut. Aku takut bahwa tak akan ada lagi yang mencintaiku sepertimu. Aku takut tak bisa lagi menemukan kebaikan sepertimu. Aku ingin keadaan baik baik saja, tapi segalanya saat ini sedang tak baik-baik saja.

Aku ingin tidur dan tak pernah bangun lagi. Aku ingin bersamamu. Aku ingin rasa rinduku disudahi. Aku ingin mimpi bertemu denganmu dan tetap di sana. Selamanya.

--

--

dhani
dhani

Written by dhani

Spinning tales with the remnants of broken hearts, because why waste good pain?

No responses yet