Pesan

dhani
3 min readFeb 21, 2024
Pompeii: Mural Paintings from the Ruins (1891) by William Mackenzie, a beautiful virgin and a little boy cherub. Digitally enhanced from our own original plate.

If you left your love, I’ll be right

Ia duduk sendiri di meja tengah Saorsa Utara. Menatap layar monitor laptop di depan, lelaki itu menulis lebih dari 3000 kata sejak pagi. Ia berhenti sesekali untuk memutar kepala, berdiri, lantas meluruskan punggung.

Ruangan itu dingin dengan dua AC yang menyala kencang. Selain laptop, empat buku yang terbuka, ada sebuah tas biru tua, segelas japanese coffee, dan sepiring spageti yang dimakan separuh. Lelaki itu mungkin sedang serius menyelesaikan cerita yang ia karang sejak setahun lalu.

Mungkin cuma itu yang ia miliki sekarang. Sebuah cerita. Selebihnya hanya kekecewaan, rasa sesal, dan juga kenangan-kenangan buruk dari masa lalu yang tak juga selesai. Seiring waktu, kamu akan menyadari, apa yang penting akan bertahan, apa yang tidak akan hilang. Waktu nyaris mampu memperbaiki segala persoalan.

Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.

“Kukira saat kamu jatuh cinta lantas berpisah, kamu tak akan pernah bisa benar-benar menyintas. Akan ada bagian dari orang itu yang tinggal bersamamu, tumbuh bersamamu, dan membuatmu jadi orang yang lebih baik. Aku berharap hidupku memberimu kebahagiaan, bahkan setelah berpisah.”

Ia tak segera membalas, lelaki itu tahu siapa pengirim pesan yang kasmaran itu. Setelah menghapus notifikasi, beserta pesan yang baru saja masuk, lelaki itu terus menulis. Barangkali ada sesuatu yang dikejar, sesuatu yang segera diselesaikan.

Lelaki itu menulis cerita tentang perempuan yang dengan keras kepala meninggalkan kota kelahirannya untuk jadi lebih tangguh. Selepas pergi, perempuan dalam kisah lelaki itu memelihara penyesalan. Penyesalan yang membuatnya tak bisa hidup tenang, jatuh cinta lagi, dan tenggelam dalam kegiatan-kegiatan tak perlu seperti belajar menyelam.

Kita tahu bahwa sepanjang hayat, ada banyak bentuk penyesalan. Pertama menyesal tak berbuat baik, ketika sempat. Kedua menyesal tak membela diri sendiri saat mampu. Tapi penyesalan paling buruk adalah tidak mengutarakan perasaanmu sendiri. Seperti menyembunyikan rasa sayang, karena takut ditolak.

Si perempuan, dalam kisah lelaki itu, adalah yang tak pernah mengutarakan perasaannya, lantas pelan-pelan disergap kecewa. Karena tak bisa mengulang waktu dan tak mampu berdiri melawan keinginan diri sendiri. Tapi lelaki itu bingung menulis akhir dari cerita yang ia tulis sendiri.

Ponsel lelaki itu menyala, seseorang coba menelpon, tapi ia tak peduli. Ia masih menulis beberapa skenario akhir cerita. Ia coba membuat si perempuan bergegas pulang, tapi tak masuk akal, karena tokoh itu keras kepala dan petarung. Ia coba membuat si tokoh perempuan menyesal dan melanjutkan hidup, tapi agak mustahil, karena siapa yang hidup dirongrong penyesalan?

Sebuah pesan masuk. Dari nomor yang sama. Tanpa memeriksa nomor itu, si lelaki membuka pesan itu hanya untuk menghapus pesan yang berbeda. Tapi sebelum ia memutuskan untuk mematikan ponsel, ia membalas nomor itu dengan pesan yang sama panjang.

“Beberapa hubungan itu tak akan bisa diperbaiki dan disambung, sekeras apapun kita berusaha, atau setulus apapun kita berdoa. Karena bersama akan lebih menyakitkan daripada berpisah. Jika ini terjadi, yang bisa dilakukan hanya mendoakan dalam diam. Dan itu tak apa.”

Malam makin dingin dan kita tak pernah belajar.

It’s all peaches and cream

--

--

dhani
dhani

Written by dhani

Spinning tales with the remnants of broken hearts, because why waste good pain?

Responses (2)