Menangis

dhani
3 min readMay 12, 2020

“Aku sudah bosan menangis.” katamu.

Aku tahu kamu berbohong. Menangis adalah satu-satunya jalan bagimu untuk melawan. Hidup yang teramat keji memaksamu untuk selalu diam. Semua usaha melawan seperti menabrak tembok. Amarah membuatmu lemas, kebencian membuatmu terpuruk, dan kecemasan memperburuk itu semua. Tak ada yang benar-benar berhasil membuatmu bangkit kecuali menangis.

Matamu adalah sepasang kebencian yang mereda. Aku tak bisa menemukan gambaran lain untuk matamu. Nyala terang yang sesekali redup saat menghadapi duka. Mata yang terlalu sering ditempa penderitaan.

Kita sama-sama paham harapan adalah musuh besar keinginan. Ia memberi ruh pada kebencian. Setiap keinginan yang tak terwujud menjadikan manusia tengik. Kukira kamu tahu itu. Kukira aku juga mengalami hal ini. Bahwa ada beberapa keinginan, terlepas betapa hal itu sangat alami, tak mungkin bisa dipenuhi.

Seperti juga kamu yang berharap ia kembali.

“Aku ingin kembali, tapi tak mungkin. Kamu mengharapkan hujan yangkering,” katamu.

Hujan kering? Bisakah kita membuat metafora lain? Hujan, senja, malam, terang bulan, pantai, subuh sudah terlalu sering dipakai metafor, sayangnya sering luput. Tak selalu benar dan tak selalu sesuai.

“Ada senja di matamu, ada hujan di matamu, ada kerak di matamu dan sebagainya. Aku cuma ingin jadi hujan, tapi tak membuat tanah jadi basah, tetap kering,” katamu.

Permintaan yang merepotkan tentu saja. Kamu juga pernah bilang kalau kamu mencintai Mendung. Menurutmu hanya itu yang indah. Senja, hujan, badai selalu syahdu didengar. Seolah-olah hanya keadaan semacam demikian yang menggugah hati manusia.

“Matamu adalah sepasang badai yang telah usai,” katamu, melihatku bangun tidur.

Nah, boleh lah.

Kamu mulai berpikir seperti seorang penyair. Tapi penyair apkiran. Penyair pinggir kali yang bisa sangat sukses berkarir menjadi penulis kartu ucapan Valentine.

“Brengsek. Kau tahu menjadi penyair tak mudah. Sudah berapa abad sejak manusia mengenal kata. Berapa milyar padu padan kata yang dibuat. Dan penyair harus membuat modifikasi kata baru,” katamu.

Matamu masih redup. Masih seperti mendung yang ogah surut. Muram yang keras kepala. Monokromatik yang membuat pagan paling bebal sekalipun akan merasa melankolis. Bukankah Tuhan menciptakan dunia dalam gelap? Lantas muncul cahaya. Di antaranya adalah warna murung. Tempat di antara kelam dan terang.

“Kenapa mesti takut menangis? Takutlah ketika kau tak bisa lagi merasakan,”

Gombal!

Tentu gombal. Lelaki adalah mahluk paling gombal setelah kuda. Itupun karena kuda tak bisa bicara.

“Mengapa kuda? Mengapa bukan kupu-kupu yang cantik?”

Dalam banyak kisah, ksatria berwajah tampan selalu datang dengan kuda putih bersurai lebat. Ia gagah, ia magis dan yang paling penting ia anggun. Kuda adalah representasi keperkasaan, tapi juga ketundukkan, dia ditunggangi dan tak pernah diberi kredit secara pantas.

“Menangis adalah satu-satunya rumah di mana aku bisa nyaman tinggal. Suatu saat aku ingin mati seusai menangis panjang. Kelelahan,” katamu lagi.

Mati adalah perkara mudah. Kau bisa saja melarung diri di laut dalam. Atau menabrakkan diri pada ratusan biri-biri yang menyeberang. Tapi untuk hidup? Untuk hidup kau harus memiliki nyali seorang penjudi! Kau akan bertaruh dalam hidup yang tak pasti. Kau akan menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tak satu setan pun tahu kemana akhirnya.

Matamu adalah lautan pasang. Ia menenggelamkan sekoci kenangan yang gagal diselamatkan.

“Kukira aku akan terus menunggu. Berharap semuanya baik-baik saja. Berharap bahwa hidup hanya perkara menanti lantas terjadi,” katamu.

Matamu kosong. Lelah menghadapi hidup. Kukira memang ada baiknya kau berhenti berkelahi dengan dirimu sendiri. Meyakinkan diri perihal harapan-harapan yang sebenarnya sudah tamat sebelum diperjuangkan. Tapi kau terlalu bebal meyakini tak ada yang tak mungkin.

“Biarkan aku tidur. Sebentar saja. Bangunkan aku jika kopi pekat pahitmu sudah tersaji,” katamu.

Dan pagi ini aku merasa terlalu lelah untuk bangun lagi.

--

--

dhani
dhani

Written by dhani

Spinning tales with the remnants of broken hearts, because why waste good pain?

No responses yet