Memaafkan

dhani
3 min readMay 17, 2020

Kuterka gerimis mulai gugur
Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku
sambil melepaskan isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu
Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit ke atas itu
Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu

Sapardi Djoko Damono — 1982.

Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit, aku menunggu maaf untuk diriku sendiri. Barangkali kamu tahu, apa yang aku lakukan dulu, demikian menjijikkan. Aku tidak bangga, aku mengakui hal itu salah, aku tidak bisa mengubah apa yang telah lewat, tapi aku ingin kamu tahu, aku berusaha berubah, memperbaiki diri dan aku berharap kamu tahu ini.

Aku harus belajar mengerti. Penderitaan adalah peristiwa spesifik yang tak bisa dibagi. Kamu mungkin bisa memahami pedihnya tertusuk duri, tapi kamu tidak akan benar-benar bisa merasakan luka yang sama. Kita belajar untuk membuat diri sendiri kebal pada penderitaan. Hingga apa yang tidak membunuhmu akan membuatmu lebih kuat. Sementara, tidak semua orang bisa bertahan dari penderitaan. Beberapa lebih memilih untuk menyerah daripada menjadi pulih.

Luka, seperti juga aib di masa lalu, semestinya dihadapi. Sampai kamu benar-benar sembuh, sampai kamu benar-benar kuat. Tapi siapa yang bisa menghadapi penderitaan sendirian? Siapa yang bisa mengajari kita untuk tangguh dan dengan kepala tegak merasakan sakit itu? Menghadapi luka sendirian butuh keberanian, seperti juga menghadapi kesalahan di masa lalu.

Maaf tak pernah gratis, ia juga tak pernah mudah. Maaf semestinya diperjuangkan. Tapi sebelum kamu meminta maaf kepada orang lain, kamu perlu memaafkan dirimu sendiri, menyadari bahwa apa yang kamu lakukan salah, berkomitmen untuk berubah dan menjadi manusia yang lebih baik. Tapi apakah itu mudah?

Perubahan, komitmen, dan konsistensi tidak pernah mudah. Kamu akan terus menerus diingatkan akan kesalahanmu. Tanamkan dalam kepalamu, juga dadamu, kesalahan yang kamu buat di masa lalu tidak menentukan dirimu di masa depan. Kamu akan terus diingatkan, kesalahan itu akan tetap ada, bagaimana kamu merespon itu menentukan siapa dirimu. Kamu bisa mengutuk, marah, atau berusaha lebih keras untuk mengubah diri sendiri.

Hal yang bisa kamu lakukan sekarang; menarik nafas panjang, cuci muka, ganti baju, lalu terlentang. Bayangkan masa depanmu, perbaiki kesalahan di masa lalu, jadilah lebih baik, dan berbagilah dengan orang yang kamu sayang. Tidak ada beban yang terlalu berat. Tidak ada kesalahan yang terlalu besar. Kemampuan manusia untuk belajar tak hanya diukur dari nilai di rapot atau sertifikat, tapi juga pada kemampuan untuk menyadari kesalahan dan jadi lebih baik setelahnya.

Kamu hanya perlu membuktikan pada dirimu sendiri, bahwa kamu pantas untuk dimaafkan. Kamu hanya perlu membuktikan pada dirimu sendiri, bahwa kamu layak diperjuangkan, layak diberi kesempatan. Tapi untuk melakukan itu semua, kamu harus menunjukkan komitmen, keberanian untuk tetap berdiri tegak, meski kelak kesalahan-kesalahan itu mengejarmu, menuntutmu bertanggung jawab.

Kesalahan itu akan datang, mengejarmu untuk memberikan pertanggung-jawaban. Kelak kamu akan belajar bahwa maaf terbaik datang dari perubahan. Apa yang telah berganti. Siapa kamu di masa lalu, siapa dirimu saat ini, dan siapa kamu di masa depan. Belajarlah untuk merelakan, mengikhlaskan diri sendiri, dan menyadari bahwa untuk jadi lebih baik, seseorang perlu jatuh pada titik paling rendah.

Memaafkan orang lain adalah perkara mudah. Memaafkan diri sendiri adalah usaha sepanjang hidup. Terutama jika penyesalan itu melekat padamu.

Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku
sambil melepaskan isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu

--

--

dhani
dhani

Written by dhani

Spinning tales with the remnants of broken hearts, because why waste good pain?

No responses yet