Hari Kelima

dhani
2 min readSep 15, 2020

Your parents.

Setiap Kamis di depan istana negara Republik Indonesia. Beberapa orang tua menunggu jawaban negara mengapa anaknya belum juga pulang ke rumah. Ada yang getir, pasrah, marah, dan kelelahan. Tapi kukira yang lebih penting dari ini adalah bagaimana negara bisa bicara tentang kesejahteraan rakyat, pemenuhan harkat dan martabat, tapi gagal bicara tentang kebenaran di hadapan orang tua ini. Apa yang membuat mereka takut?

Negara dan pemerintah adalah dua entitas berbeda. Kukira yang sama dari kedua hal itu adalah aparatur yang bekerja dibalik label negara atau pemerintah. Di sini bisa jadi presiden, anggota dewan, atau penegak hukum. Tapi lebih dari itu semua, mereka yang berhutang penjelasan dan kemanusiaan, harus bertanggung jawab. Hingga hari itu tiba, aku pikir seluruh manusia di Indonesia yang merasa dilahirkan dari rahim ibu dan pernah mengenal konsep ayah, harus menganggap mereka yang berdiri setiap Kamis sebagai orang tua.

Ibuku belajar dari keluarga tentara. Bapakku berasal dari keluarga pedagang dan guru agama. Mereka berdua mengajarkanku untuk peduli dan menghormati orang tua. Ini mengapa ketika aku merantau dan bertemu dengan peserta Kamisan, aku tak sampai hati menganggap mereka orang asing yang mencari keadilan. Mereka adalah ibu dari seseorang, ayah dari seseorang, keluarga dari seseorang yang hak dan martabatnya sebagai manusia direbut. Aku tak bisa membayangkan jika hal serupa terjadi padaku, bagaimana ibuku akan bertindak? Bagaimana rasanya kehilangan tanpa bisa mendapat keadilan?

Ibuku perempuan biasa yang menghabiskan waktunya berdoa dan beribadah. Barangkali ia lebih banyak menyembah tuhan daripada peduli pada dirinya sendiri. Bagi ibu anak-anaknya adalah semesta yang lain, pada setiap doa, pada setiap permohonan, seusai membaca kitab suci yang panjang, ia berharap kami selalu sehat, selalu berhasil dan dijauhkan dari malapetaka. Kukira ibuku adalah yang terbaik di bawah langit, seseorang yang selalu menomorsatukan orang lain, mudah memberikan maaf, dan mau terus peduli.

Bapak di sisi lain adalah sosok yang asing. Kami tak terlalu dekat, mungkin karena kerap bersitegang, berkelahi, dan bertikai, kami jadi punya hubungan yang aneh. Aku selalu berharap ia baik-baik saja. Aku dan orang tuaku tak selalu dalam hubungan yang baik. Meski demikian mereka percaya bahwa memperjuangkan keadilan, menolong orang lain, atau membantu mereka yang susah adalah kewajiban. Sebelum jadi anak, sebelum jadi seseorang, aku perlu jadi manusia terlebih dahulu. Itu mengapa, jika kamu peduli, jika kamu mau belajar, coba cari tahu apa itu Kamisan dan bantu apapun yang kamu bisa.

Melalui doa atau apapun yang kamu percaya.

--

--

dhani
dhani

Written by dhani

Spinning tales with the remnants of broken hearts, because why waste good pain?

No responses yet