Di Kepalamu, Buku Itu Belum Tamat

dhani
6 min readFeb 11, 2023
Faisans ordinaires from L’animal dans la décoration (1897) illustrated by Maurice Pillard Verneuil. Original from the The New York Public Library. Digitally enhanced by rawpixel.

Perempuan itu melihat punggung yang teramat akrab pergi menjauhi pagar rumah dengan cahaya lampu yang mulai dimatikan jelang subuh berakhir. Bertahun lalu ketika ia menonton band punk, punggung yang sama itu menggendongnya turun dari lantai tiga Rossi, Fatmawati, dan menemaninya sepanjang malam. Pemilik punggung itu mengurut pundaknya yang kaku usai muntah di parkiran di antara motor-motor plat B dan pedagang nasi goreng.

Ia selalu suka momen itu. Untuk pertama kalinya sepanjang 23 tahun hidup, orang asing yang tak dikenalnya, memberikan perhatian dan kepedulian tanpa ingin apapun sebagai ganti. Seperti induk berang-berang yang merawat anaknya, seperti senyuman satpam BCA pada nasabahnya. Terasa tulus dan ikhlas. Atau setidaknya itu yang ia rasakan.

“Kalau pulang nanti, minum air, cuci muka, angkat kakimu ke arah tembok, lalu jika sempat minum jahe panas,” kata Kamu.

Lelaki itu menemaninya hingga ia pengar, juga membantu mencari kacamata yang jatuh entah di mana. Tanpa kaca mata itu, ia nyaris sama butanya dengan ayam selepas magrib. Di mata perempuan itu, lelaki itu seperti butiran cahaya redup dengan rambut panjang sebahu.

Setelah kacamatanya ketemu (lensanya hilang sebelah, mungkin pecah karena diinjak orang), perempuan itu baru bisa jelas melihat wajahnya lelaki itu.

“Wow kamu ganteng juga ya A’?” kata perempuan itu.

“Separuh ganteng, separuh begal, sepenuhnya malaikat,” kata Kamu.

Usai pertemuan itu, keduanya tak bertemu lagi hingga suatu hari Lelaki itu datang ke rumahmu untuk menyewa satu kamar yang sudah lama kosong. Kamar itu bekas ruang bersalin klinik yang melakukan praktik aborsi ilegal. Tetangga sekitar menyebut rumah itu angker, tapi harga murah dan mata rabun memuat perempuan itu nekat mengontrak rumah itu sendirian.

“Aku rabun, aku juga tak bisa melihat jelas setelah malam. Hantu atau rampok, tak ada bedanya. Kamu tak bisa takut atas hal yang tak bisa kamu lihat,” kata perempuan itu.

Kamu terbahak-bahak mendengar logika bengkok itu dan mereka hidup bersama setelahnya. Si lelaki adalah penulis, setidaknya itu yang ia bilang pada perempuan itu. Tapi nyaris setiap hari sepanjang siang, lelaki itu hanya bekerja di studio kayu, membuat perabotan yang lebih mirip patung abstrak daripada kursi duduk.

Si Perempuan tahu, barangkali sudah paham sejak lama, bahwa lelaki itu menyimpan duka, kehilangan yang terlalu pedih. Ia tahu dari barisan bekas luka di tangan kiri lelaki itu yang ditutupi tato bergambar dua ular yang berkelindan memangsa satu sama lain. Lima tahun hidup bersama, ia tak pernah bertanya, dan lelaki itu juga tak pernah bercerita.

Hidup adalah kesepian masing-masing. Seperti banyak cerita yang pada akhirnya berujung pisah. Perempuan dalam kisah kita yang satu ini terjebak dalam pilihan. Apakah ia akan mengejar orang yang ia cintai atau seperti ketam di tengah badai, ia akan meringkung dalam liang dan membiarkan dirinya diselamatkan orang lain.

Lelaki dalam cerita ini, tidak memiliki nama, perempuan itu hanya memanggilnya Kamu. Selalu begitu sejak mereka bertemu. Perempuan itu tak pernah memaksa Kamu untuk memberikan nama aslinya, dan Kamu juga tak pernah terbuka menjelaskan siapa dirinya. Mereka hidup dalam cerita di kepala masing-masing, menolak untuk bercerita atau lebih dekat.

Tapi seperti banyak cerita dengan kegetiran yang menjadi penutup. Perempuan itu jatuh cinta. Diam-diam. Dengan banyak harapan, dengan banyak keinginan. Ia ingin diberi kesempatan untuk bersama, tapi perempuan itu tahu, Kamu hanya hidup untuk hari ini, untuk dirinya sendiri, tak pernah lebih dan perempuan itu menyadari bahwa meminta lebih hanya akan membuatnya terluka.

Perempuan itu selalu suka melihat Kamu bekerja di bengkel kayu di halaman rumah tinggal mereka bersama. Kamu selalu bekerja dalam diam, sesekali menghela nafas jika kayu yang ia kerjakan bengkok, atau paku yang ia palu miring. Sisanya ia bekerja seperti bandit yang hendak merampok rumah, waspada, penuh konsentrasi, dan sunyi.

Tapi Kamu bukan tipe orang yang pendiam. Ia suka bicara, suka bercerita, tentang hal-hal yang ia ingat dari perjalanan menuju pasar, dari buku yang dibaca, dari puisi yang ia ingat, dari jenis teh yang ia kumpulkan, dan dari perabotan yang ia buat. Perempuan itu tahu, Kamu bercerita untuk membuatnya gembira. Ia sadar, setelah keguguran beberapa tahun lalu, hidupnya dipenuhi kemarahan, cerita Kamu membuatnya bisa bertahan.

“Teh terbaik di Indonesia dibuat di Solo. Dibuat, bukan ditanam,” kata Kamu suatu hari.

Kami tengah duduk di kebun tanamanku di sisi lain rumah tinggal kami. Ada berbagai jenis tanaman yang kurawat sejak pandemi. Mulanya hanya iseng. Tapi kebun ini tumbuh seiring terkurungnya kami dari dunia. Awalnya hanya satu pot monstera, lalu dua, lalu tiga. Kemudian ada tanaman anggrek yang kukira susah, kemudian ibuku membawakanku tanaman lidah mertua, aglaonema, dan mawar yang ia tanam sendiri.

“Teh Solo dioplos dari beberapa teh terbaik di Jawa. Teh Bandul, Teh Tang, Poci, dan lainnya. Tiap angkringan, tiap warung, punya resepnya sendiri,” kata Kamu.

“Kalau aku, separuh bungkus cap Tang, separuh cap Poci, satu bungkus penuh teh cap Nyapu, dan separuh teh cap Botol. Rebus dalam air dingin hingga panas lalu kasih gula merah, jangan gula batu,” kata Kamu sembari memberiku segelas teh panas.

“Ada pahitnya. Teh memang harus pahit?” kataku padanya.

“Teh Indonesia selalu pahit. Teh bungkusan seperti ini apalagi. Ini bukan daun teh, ini batang, sisa daun yang tak laku diekspor, tapi justru itu yang bikin enak. Tuan-tuan bule mana bisa menikmati ini, bisa berak darah mereka,”

Perempuan itu memandang gelas dalam genggamannya. Teh yang sama pernah ia minum setelah semalaman menangis dan muntah. Teh yang sama juga yang membuatnya tenang usai pulang dari rumah sakit. Lima tahun terakhir Kamu lebih dekat dari keluarga, lebih peduli dari pacar sendiri, lebih sering hadir daripada mantan tunangan perempuan itu. Tapi lebih dari apapun, Kamu adalah jangkar, sesuatu yang mengikatnya untuk tetap hidup.

Kepala yang tegak, dada yang membusung, rambut hitam sebahu, mata yang selalu mengantuk, dan kaus lusuh yang sudah tak dicuci seminggu, siapapun yang melihat Kamu akan percaya bahwa pria itu bukan penulis. Lebih mirip kuli bangunan yang sedang mengerjakan proyek galian kabel PLN, atau Jamet yang sedang merantau menjaga warung Madura.

Si Perempuan tahu jelas. Kamu bukan laki-laki idamannya. Ia tak seperti pacarnya yang sekarang. Pria metropolitan lulusan Ivy League dengan jam Patek Philippe di tangan dan bisa mengucapkan Confit de canard atau Chateau Lafite Rothschild dengan sempurna. Kamu bahkan tak pernah bisa membedakan spaghetti bolognese dan carbonara. Baginya spaghetti hanya pake saus dan pake santan.

Di kepalanya, ia tahu kekasihnya saat ini adalah segala yang ia inginkan. Tampan, mapan, diterima kedua orang tuanya, dan bisa mengimbangi percakapan perempuan itu atas tema apapun. Sementara Kamu hanya mau bicara hal-hal yang ia anggap menarik, meski perempuan itu tahu, jika Kamu mau, ia bisa bicara semua hal.

Perempuan itu ingat, saat dirawat usai keguguran, selama seminggu Kamu datang membawakannya makanan dan cerita. Hari pertama Kamu bercerita tentang kebohongan besar pecel lele lamongan dan bedanya dengan nasi pecel di Jawa Timur. Hari kedua Kamu membawakan semangkuk besar bubur dengan potongan ayam pek cam kee yang dibalur minyak bawang putih.

“Kamu tahu? Orang-orang Sumeria sarapan dengan roti dan mentega, lalu keju dari kambing. Sialan benar, kita malah makan lontong sayur dengan bakwan dan kerupuk. Karbo, karbo, dan karbo, tapi masa bodoh, tak ada yang lebih dahsyat dari tiga tumpuk kalori yang dimakan sebelum kerja di Jakarta,” kata Kamu pada hari ketiga.

Perempuan ini tahu apa yang mereka miliki tidak akan jadi nyata. Setidaknya ia paham benar, bahwa di Jakarta, Kamu hanya sedang berusaha mencerna kegilaan. Ia ditinggal pergi kekasihnya, bertahun lalu, sebelum mereka bertemu. Kamu menulis banyak puisi, atau ia kira demikian, tentang hati yang hancur, tentang tempat yang jauh, tentang rindu. Tapi semua puisi-puisi itu tak pernah selesai, Kamu hanya menulisnya separuh, dua bait, lalu selesai.

“Tak ada yang bagus,” kata Kamu saat perempuan itu bertanya.

Tapi Perempuan itu tahu. Kamu tak ingin perasaannya selesai. Kamu tahu, jika ia berhasil menulis puisi, selesai menuliskan sajak-sajak dalam kepalanya. Ia akan menyintas, merelakan hal yang ada dalam dirinya. Kehilangan di dada yang selama ini ia pelihara. Kamu takut pergi, takut bertahan, takut sembuh. Kamu tahu bahwa ia hanya memiliki perasaan ini, kehilangan atas kekasihnya yang hilang. Jika perasaan itu hilang, maka ia takut hidupnya akan berakhir.

Minggu lalu Kamu bilang akan pergi dari Jakarta. Ia memberikan kunci kamar, uang kontrak untuk enam bulan ke depan, dan seluruh barang dalam kamarnya. Perempuan itu hanya bisa diam. Ia tahu bahwa perpisahan ini niscaya. Apa yang mereka miliki fana, tidak ajeg, dan satu hari akan berakhir. Perempuan itu hanya tak bisa membayangkan bahwa hari itu tiba terlalu cepat.

Selama seminggu ia memikirkan cara untuk menahan Kamu pergi. Ia merengek perihal tanaman-tanaman yang ia miliki, ia merengek siapa yang akan menemaninya menonton konser, hingga memohon Kamu untuk memikirkan ulang keputusannya. Tapi Kamu bergeming, ia bilang pacar Perempuan itu akan jadi teman yang baik, lebih baik dari dirinya. Dan Perempuan itu tak lagi memintanya tinggal.

Perempuan itu memandang punggung yang menjauh dari pintu rumahnya. Rumah yang mereka tinggali beberapa tahun terakhir. Ia berharap Kamu menoleh ke belakang, menatapnya, perempuan itu berjanji. Jika Kamu menoleh, ia akan mengejarnya dan mengungkapkan perasaanya. Tapi setelah berjalan keluar rumah, Kamu berjalan lurus, hingga punggungnya tak terlihat lagi.

--

--