Ada lubang hitam di dada yang menolak terisi saat kamu pergi. Ini bukan bualan, karena membual membuatku lapar dan kamu tahu aku tak suka lapar. Ini tentang kisah-kisah kita yang dikecewakan waktu. Bukankah waktu membangun kenangan? Dan kenangan itu serupa noda yang menolak dibasuh.
Malam ini aku kangen. Tapi ini tentu bukan urusanmu. Aku tak suka kangen, sama seperti aku tak suka bangun kesiangan. Aku rindu dan ingin ngobrol, tapi kita sama-sama tahu, itu sudah tak mungkin. Kamu dengan rasa sakitmu dan aku tentang rasa pedihku. Maka berhentilah bicara. Biar keheningan ini aku tanggung sendiri dan kamu tak repot lagi.
Di mana kamu simpan marah dan tangismu? Bukankah kamu dulu datang dengan kesedihan yang serupa badai? Yang membuatku jatuh cinta pada segala rasa penasaranmu dan bingung menjawab pertanyaanmu. Apa itu luka? Apa itu sakit? Apa itu benci dan apa itu dendam?
Kawanku bilang perpisahan ini membuatku lemah. Tapi aku tak akan pernah menunjukkan itu. Aku mungkin rapuh, tapi tak akan lemah. Aku percaya. karena butuh nyali untuk terus menjalani hidup sendiri, saat orang yang kamu sayang tak lagi mengharapkanmu. Bukankah hidup untuk menguji nyali? Aku juga berharap kamu begitu, karena kita mungkin rapuh, tapi tak lemah!
Pernahkah kamu merasa ada banyak hal yang tak bisa dijawab? Seperti kenapa kamu lebih suka pantai daripada gunung. Mungkinkah karena gunung terlalu dingin sehingga kamu tak tahan? Atau mengapa kamu selalu menyukai bising musik EDM. Aku tak pernah paham, tapi bukankah kita tak perlu selalu setuju dalam hidup?
Tau kah kau? aku sekarang sudah kurusan, tidak benar-benar kurus, hanya sedikit hilang lemak. Kamu pernah bilang ingin aku sehat. Aku menikmati proses olahraga setiap hari. Seperti terapi yang murah, kamu hanya perlu berjalan dan berjalan hingga pada akhirnya kamu sampai di rumah. Kamu hanya perlu memulai langkah pertama.
Aku kemarin makan bakso. Makanan yang sangat kita sukai. Bakso kasar yang diisi dengan tetelan daging dan kuah yang bening. Ya aku tahu itu makanan kesukaanmu. Entah kenapa. makan bakso membuatku jadi sentimentil. Kuputuskan hanyamakan separuh, bukan karena ingat kamu, tapi karena mangkuk dan sendoknya terlalu keras untuk kukunyah.
Aku rindu dan bertanya pada diri sendiri, kapan aku boleh telpon? Aku rindu suaramu. Aku masih percaya kelak kita akan banyak bicara, ngobrol selayaknya kawan lama, tapi mungkin tidak hari ini. Aku berharap sudah jauh lebih baik. Aku berharap kamu jauh lebih bahagia.
Aku juga masih berharap kita akan berjumpa lagi. Aku rindu mata sendu dan berjalan bersamamu. Aku suka melamun saat kamu bicara. Kita tak perlu kencan, hanya diam-diam saja, memandangi malam yang makin larut sambil kerang rebus, tahu gejrot, dan es teh manis. Segala yang sederhana kadang lebih berarti daripada janji-janji besar.
Kadang, aku merasa bahwa kesendirian ini memerdekakan. Aku juga menyadari tak ada gunanya aku berharap tentang hubungan yang serius. Saat ini aku tak berharap apa-apa darimu. Mengenang kebersamaan kita saja sudah cukup, sementara mencintai? Apalagi kembali bersama? Itu mimpi yang terlalu jauh.
Belakangan aku coba lagi menulis puisi. Tentang hujan, tentang warna langit, tentang film yang kita tonton, tentang lagu yang kita dengar. Segala yang membuatku mengingatmu. Barangkali hanya dalam kenangan aku bisa bersamamu, bahagia, dan tidak lagi tersiksa dengan harapan bahwa keadaan akan baik-baik saja. Dalam ingatan itu, aku dan kamu, kita berdua baik-baik saja.
Baiklah, ini paragraf terakhir. Aku berharap kita akan bertemu lagi. Aku akan memasak makanan kesukaanmu, kita berbincang, merayakan kerinduan, untuk kemudian berpisah lagi. Saat ini aku ingin mengingatmu dengan segala kebaikan. Mungkin di antaranya aku akan mengingat hal hal yang pedih. Tentang janji yang batal, tentang pesan yang tak berbalas, tentang hujan yang basah, dan tentang rindu yang tak selesai.
Ada lubang hitam di dada yang menolak terisi saat kamu pergi. Ini bukan bualan, karena membual membuatku lapar dan kamu tahu aku tak suka lapar.