Bertahun Lalu, Lukanya Menjadi Bunga

dhani
6 min readFeb 8

--

The First Book of Urizen, Plate 21 (Bentley 27)

Aku terbaring lemah di antara buku-buku di kamar. Jaket basah, potongan poster, pakaian yang berjamur, juga sisa-sisa plastik bekas bungkus jualan semalam, masih belum kubereskan. Kelak, jika aku mati di ruangan ini, mereka akan menemukan judul berita yang sempurna.

Seorang penulis ditemukan tak bernyawa di antara sampah-sampah di kamarnya.

Sampah ini bisa jadi buku-bukuku yang tak laku, barang jualan yang tak terjual, atau segala di antaranya. Tapi itu tak penting. Malam ini, seperti banyak malam lainnya, aku masih merasakan sesak di dada kiri. Kekalahan memang seperti itu, ia menikam setajam belati, lalu ditekan hanya untuk ditarik pelan-pelan.

“Seandainya ginjalku tak rusak, mungkin kita bisa minum-minum hari ini,” kata perempuan itu.

Ia berdiri bersandar pada pintu yang ditempeli berbagai macam stiker gratisan dari konser musik punk. Delapan tahun lalu, kami bertemu di gigs underground. Aku berjualan air mineral, setidaknya itu yang diliat orang, bagi mereka yang paham, aku juga menawarkan intisari, anggur merah, dan bir murah dingin.

Perempuan itu salah seorang pembeli yang datang dengan uang sobek dan muka yang teler. Sembari memohon diberi keringanan karena uangnya kurang, ia memintaku memberikan air dingin. Mungkin karena sudah terlalu mabuk, ia ingin segera sadar dan pergi dari konser murah yang bising itu.

“Seandainya ginjalku rusak, aku juga ingin minum-minum hari ini,” balasku sembari menempelkan bantal ke muka.

Perempuan itu tertawa pendek. Seperti hari-hari yang lain, selepas tengah malam, ia pulang dari kantornya di Antasari. Berkeringat dan lepek. Ia selalu mandi, tak peduli jam berapa ia sampai di rumah kontrakan kami. Rumah ini lebih mirip pusat percontohan pengolahan sampah daripada tempat tinggal.

Satu sisi rumah penuh dengan potongan besi dan kayu, sebagian yang lain seperti taman dengan banyak bunga dan tanaman hias. Kami tinggal berdua di tempat ini. Sebagian ruangan kupakai untuk studio perkakas mebel, sebagian lain adalah tempatnya memelihara tanaman untuk dijual.

Ia sering mengeluh limbah kayu yang kuhasilkan tak pernah dibuang. Sementara aku kesal karena lalu-lalang pembeli yang datang ke rumah kami, mengganggu konsentrasiku. Tapi belakangan aku tak keberatan, hobi kami berdua cukup untuk membayar uang sewa dan kebutuhan lainnya.

Perkara hidup bersiasat, aku dan perempuan itu sudah mencoba segala hal. Kami pernah mencoba jualan es kepal milo, tapi malah rugi karena si bodoh itu membeli milo impor yang harganya lebih mahal. Kami juga pernah coba jual telor gulung, lagi-lagi gagal karena ingin beda kami coba pakai telor bebek dan tentu harganya tetap lebih mahal.

Setelah itu kegagalan demi kegagalan kami hadapi dengan kegembiraan. Seperti nasib yang lurus, kami percaya bahwa kegagalan adalah pintu dari kegagalan yang lainnya. “Tapi kita akan punya cerita hebat. Mana ada orang bisnis 10 kali gagal 11 kali,” katanya.

Usaha terakhir kami adalah mencoba angkringan. Tapi belum sempat buka, lapak angkringan kami terbakar karena si bodoh ini tidak tahu cara memasang tungku bara. Ia hanya tertawa terbahak-bahak melihat api melahap segala modal kami meski kemudian harus dimarahi petugas damkar karena membikin macet jalan kampung.

Sekarang, setelah berkali-kali mengalami kesusahan, aku masih takjub untuk bisa tetap hidup di Jakarta. Modal yang habis itu, jika dikumpulkan tentu bisa membuat kami hidup lebih layak, tapi perempuan itu beranggapan bahwa kegagalan itu bikin kami lebih menghargai hidup.

“Kalau kita ngga gagal, gimana tahu rasanya berhasil?” katanya.

“Ya ngga gagal 11 kali berturut turut juga, dikira cari duit gampang,” kataku.

“Gampang! Ke bank saja, banyak duit. Tapi punya orang,” katanya.

Ada banyak pekerjaan bodoh di kolong langit, tapi berdebat dengan perempuan itu adalah yang paling wahid. Ia tak paham akal sehat, menolak diberitahu, dan kerap kali memakai logika yang bengkok untuk menghadapi lawan bicaranya.

Beruntung orang tua perempuan itu hidup berkecupuan, sangat berkecukupan malah. Ayahnya pensiunan jawatan transportasi dengan karir mentereng sejak jaman Sutiyoso. Salah seorang koleganya menawarkan perempuan itu bekerja di perusahaannya.

Ternyata, bakat berdagang yang kepalang jelek itu, membuatnya demikian licin dalam merayu orang. Dua bulan bekerja sebagai marketing, perempuan itu meningkatkan omset perusahaan berkali lipat. Ia bahkan mampu membuat pelaku MLM bertaubat dan kembali ke jalan yang benar dengan produk yang ia tawarkan.

“Bapak apa tidak takut anak-anak bapak makan uang haram hasil menipu dan riba? Lebih baik bapak kembali saja ke jalan tuhan. Dengan produk ini, umur bapak bisa lebih panjang, apa tidak ingin menimang cucu nanti?” katanya.

Seumur hidup aku baru pertama kali melihat seorang pelaku MLM gagal mendapat downline, malah menangis dan bertaubat setelah bertemu dengan penjual vitamin.

“Aku yakin kamu bisa menjual bensin eceran ke direktur pertamina,” kataku padanya.

“Oh jelas belaka,” kata perempuan itu.

Malam ini, aku memutuskan untuk pindah. Ke Jogja. Setelah 10 tahun di Jakarta, karirku berantakan dan tak bisa diselamatkan. Bertahun lalu ketika pertama menginjakkan kaki di stasiun Jatinegara, aku yakin akan hidup dan berujung mati di kota ini. Kini aku bersyukur segalanya masih bisa dilanjutkan, meski harus pergi ke kota yang lain.

“Kamu akan meninggalkan semua barang ini?” katanya sembari mengangkat beberapa buku di lantai.

“Iya. Tak ada gunanya dibawa juga. Di Jogja aku tak akan sempat membaca,” kataku.

“Kamu bisa kasih buku ini ke orang, sumbang, atau jual,” katanya.

“Terlalu merepotkan, terlalu memakan waktu, dan aku sudah tak mau lagi berlama-lama di tempat ini,”

“Kota ini maksudku, bukan rumah ini,” aku menjelaskan.

Hubungan kami selama ini nyaris transaksional. Aku butuh rekan membayar kontrakan, ia butuh teman untuk merawat tanaman. Aku butuh orang untuk menjual furnitur buatanku, ia butuh orang untuk mengemas penjualan bunga-bunga.

Tapi tidak lebih dari itu. Aku hadir saat ia keguguran akibat tendangan mantan pacarnya yang gila. Dia hadir saat aku menerima kabar kakakku meninggal akibat Covid. Aku ada saat ia menangis karena lulus kuliah. Dia ada saat aku nyaris mati karena demam berdarah.

Kami tak punya perasaan romantis, semacam cinta atau sejenisnya. Kami peduli satu sama lain. Tapi bukan hal yang akan membuatmu rela memberikan sebagian ginjalmu untuk donor. Hubungan kami seperti kaki-kaki kursi, tirai dan jendela, pintu dan kunci. Dekat, fungsional, dan dingin.

“Aku akan merindukanmu,” kata perempuan itu.

Ia bilang setelah aku pindah, pacarnya akan tinggal di rumah kami. Mereka sudah lama ingin tinggal bersama dan kepergianmu memberi ruang untuk itu. Ada kelegaan dalam hatiku ketika dia bilang pacarnya akan datang. Setidaknya ia tak akan aman, saat pulang tengah malam, ia akan ditemani dan tak pernah sendiri.

Azan subuh berkumandang tiga jam setelah perempuan itu pergi dari kamarku. Dari pintu aku melihat cahaya yang memancar dari jendela. Ia belum tidur. Aku mengemasi beberapa pakaian yang masih bisa kupakai. Membawa dua buah jaket, 4 celana, selusin kaos, dan satu buku yang rencananya kubaca di kereta.

Aku keluar rumah diam-diam. Hubungan kami dingin, transaksional, dan sementara. Tak perlu ada drama, tangisan, atau perpisahan. Pamit hanya akan memperumit keadaan. Aku tahu dia tak peduli, atau kupikir begitu, hanya saja. Setelah lima tahun hidup bersama, aku merasa kami tak berhak punya perasaan rumit lebih dari rekan satu kontrakan.

Di perjalanan menuju stasiun Gambir, aku mendengarkan Phum Viphurit — Sweet Hurricane. Suara gitar itu nyaris menyingkirkan suara bising di kepalaku. Barangkali jika aku mati dan terlahir kembali, aku ingin jadi serangga. Berumur pendek, tak signifikan, dan merepotkan orang-orang.

Stories we told
Will never get old
Though the fire’s gone cold, you’re my flame

Jalanan Jakarta usai subuh mulai bergeliat. Orang-orang yang menghindari kemacetan sudah bangun sejak subuh dan melaju dari rumah menuju kantor. Dari Bekasi orang-orang naik KRL menuju pusat kota. Hidup di kota ini seperti ambisi ngengat pada api. Terbakar pelan-pelan, terang dan panas.

Aku, seperti banyak orang gagal lainnya, menyerah kalah dan memutuskan pergi. Aku tak akan merindukan jalan-jalan macet di belantara Sudirman, tapi aku akan mengenang hebat gigs-gigs kecil di Fatmawati. Aku tak akan merindukan tenggat tengah malam yang harus kuselesaikan, tapi aku akan merindukan lontong sayur di tepi jalan Kalibata dini hari.

I was sailing alone
You came along
I’m singing the song you wrote

Dada kiriku masih sesak, masih perih, kekalahan ternyata demikian menyakitkan. Mereka yang bicara kerja keras tak akan mengkhianati hasil, pasti belum pernah dihantam kepalanya dengan palu godam bernama kemiskinan struktural.

Di Gambir, aku membuka ponsel dan melihat satu pesan dari perempuan itu. Setelah berpikir beberapa lama, aku menghapus pesan itu tanpa membacanya. Karena hubungan kami seperti kaki-kaki kursi, tirai dan jendela, pintu dan kunci. Dekat, fungsional, dan dingin.

Aku merasa kami tak berhak punya perasaan rumit lebih dari rekan satu kontrakan. Tak perlu ada perpisahan. Tak perlu ada pamit. Juga pernyataan dari perasaan-perasaan yang disimpan.

--

--